Al Makiyah, Rihat (2026) Pembinaan Karakter Siswa Berbasis Pondok Pesantren Pada Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Mujahidin, Ulumul Qur'an dan Ahsanul Huda Di Barito Kuala. Tesis, Pascasarjana.
|
Text
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN.pdf Download (66kB) |
|
|
Text
AWAL.pdf Download (5MB) |
|
|
Text
AWAL.pdf Download (5MB) |
|
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (10kB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (544kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Restricted to Repository staff only Download (509kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Download (237kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Download (5MB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Download (132kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (154kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN.pdf Download (2MB) |
ABSTRAK
Penelitian ini dilatar belakangi keberagaman fenomena pembinaan karakter siswa berbasis pondok pesantren pada Madrasah Aliyah Mujahidin, Ulumul Qur'an, dan Ahsanul Huda di Barito Kuala, yang masing-masing memiliki spesialisasi penguatan karakter tersendiri dalam membina karakter siswanya. Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) bagaimana proses pembinaan karakter santri asrama yang memperlihatkan hasil pembinaan karakter siswa yang baik pada ketiga madrasah tersebut, dan (2) karakter apa yang terbentuk setelah dilakukan pembinaan karakter berbasis asrama pada ketiga madrasah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori pendidikan karakter Thomas Lickona, yaitu moral knowing, moral feeling, dan moral action. Data berupa hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang berkaitan dengan proses pembinaan karakter siswa Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Mujahidin, Ulumul Qur'an, dan Ahsanul Huda. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Pertama, pada aspek moral knowing, MA Mujahidin menekankan pemahaman kitab akhlak sebagai landasan kedisiplinan, MA Ulumul Qur'an menekankan tadabbur Al-Qur'an yang dikaitkan dengan realita kekinian, dan MA Ahsanul Huda menekankan pemahaman moral yang diaplikasikan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pada aspek moral feeling, MA Mujahidin membina kepekaan batin melalui qiyamul lail, muhasabah, dan halaqah dzikir untuk menumbuhkan cinta kebaikan; MA Ulumul Qur'an menumbuhkan empati melalui ibadah berjamaah, dzikir, tadarus, dan khidmah sosial santri; sedangkan MA Ahsanul Huda membentuk kesadaran hati melalui penghayatan ihsan, yaitu beribadah seakan melihat Allah. Pada aspek moral action, ketiga madrasah relatif sama, yaitu diwujudkan melalui penguatan ibadah, keikhlasan, kemandirian, dan tanggung jawab sosial, serta aksi nyata seperti kerja bakti, gotong royong, dan saling membantu sesama santri. Kedua, karakter yang terbentuk pada ketiga madrasah menunjukkan kesamaan pada karakter religius, dengan penekanan yang berbeda: MA Ulumul Qur'an lebih unggul pada aspek religiusitas, MA Mujahidin lebih unggul pada aspek kedisiplinan, dan MA Ahsanul Huda lebih unggul pada aspek kreativitas dan jiwa kewirausahaan sebagai bekal kemandirian hidup
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | L Education > L Education (General) |
| Divisions: | Pascasarjana (Magister dan Dokter) > S2 Pendidikan Agama Islam |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 25 Sep 2026 06:24 |
| Last Modified: | 25 Sep 2026 06:24 |
| URI: | http://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/32433 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |




