Asshiddiqi, Muhammad (2024) Ummatan Wasathan dalam Al-Qur’ān Perspektif Tafsīr Nusantara (Studi Komparatif Tafsīr Marah Labīd dan Tafsīr Al-MisbāhTerhadap Surah Al-Baqarah 143). [Skripsi]
Pernyataan Keaslian Tulisan.pdf
Download (48kB)
Awal...pdf
Download (316kB)
Abstrak.pdf
Download (380kB)
BAB I..pdf
Download (560kB)
BAB II..pdf
Restricted to Repository staff only
Download (675kB)
BAB III..pdf
Download (497kB)
BAB IV..pdf
Download (815kB)
BAB V..pdf
Download (364kB)
Daftar Pustaka.pdf
Download (400kB)
Lampiran..pdf
Download (875kB)
Abstract
Latar belakang penelitian ini ialah karena adanya pandangan dan
pemahaman yang ekstrem cenderung condong ke kiri dan condong ke kanan
dalam memahami agama. Terlebih di Indonesia yang merupakan negara majemuk
dengan berbagai keragaman suku, budaya, sosial, dan keagamaan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui makna dari ummatan wasathan pada QS al-Baqarah:143 serta relevansinya dengan problem multikultural
Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library reseach).
Penelitian ini juga menggunakan pendekatan komparatif yang dalam penelitian ini
menjadi objek kajian adalah perbandingan penafsiran dari dua mufasir, yaitu
Kitab Tafsir Marāh Labīd karya Syekh Nawawi Al-Bantani dan Kitab Tafsīr Al-Misbāh karya M. Quraish Shihab. Langkah dalam perbandingan ini diawali
dengan mengutip teks asli dari penafsiran kedua mufasir lalu mencari titik
persamaan dan perbedaan di antara keduanya dan relevansi penafsiran keduanya
dengan problem multikultural.
Pada penelitian ini peneliti memfokuskan penelitian pada QS al-Baqarah
ayat 143 sebagai objek penelitian. Namun pada bab II terdapat satu ayat lain yaitu
QS al-An’am ayat 153 sebagai data pendukung yang mana pada ayat tersebut
dijelaskan oleh Rasulullah Saw, bahwa ada beberapa jalan yang mana setiap jalan
memiliki hambatan atau gangguan syaitan kecuali jalan tengah.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa ummatan wasathan adalah
umat yang adil, pilihan dan terbaik. Yang mana umat yang terpilih berarti
memiliki kelebihan diantara umat-umat yang lain. Hal itu dijelaskan dalam QS
Al-Baqarah:143 yang menghimpun beragam makna seperti: beriman kepada Allah
SWT, dan Rasulullah Saw, keseimbangan dunia dan akhirat, keseimbangan antara
ilmu dan amal memiliki kekuatan akal dan kebijaksanaan, menjunjung tinggi
persatuan dan kesatuan dan rasa persaudaraan, dan lain-lain. Namun masalah
multikultural yang ada di Indonesia masih sangat jauh dari kata “umat pilihan,
umat terbaik” karna kurangnya kesadaran dari masing-masing kelompok akan
pentingnya menjaga persatuan.
Dalam penelitian ini juga memuat perbedaan pada segi corak penafsiran,
metode yang digunakan. Tafsir Marah Labid menggunakan penafsiran Ijmali atau
global, dan bercorak Adabi Ijtima’I, sedangkan Tafsir al-Misbah menggunakan
motede Tahlili dimana M. Quraish Shihab menafsirkan surah al-Baqarah 143
secara luas, dan menggunkan corak Adabi Ijtima’i.
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 29 Aug 2024 07:28 |
| Last Modified: | 30 Aug 2024 01:01 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/27792 |




