Syarifudin, Syarifudin (2024) Tikrār dalam Al-Qur’an (Analisis Pengulangan kata Hâdzâ Rabbî dalam Surah Al-An’ām ayat 76-78). [Skripsi]
PERNYATAAN.pdf
Download (214kB)
AWAL.pdf
Download (976kB)
ABSTRAK.pdf
Download (142kB)
BAB I.pdf
Download (368kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (443kB)
BAB III.pdf
Download (172kB)
BAB IV.pdf
Download (394kB)
BAB V.pdf
Download (117kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (156kB)
LAMPIRAN DAN BIODATA.pdf
Download (752kB)
Abstract
Setiap nabi yang diutus Allah SWT selalu dibekali dengan mukjizat. Di antara fungsi
mukjizat adalah meyakinkan manusia yang ragu dan tidak percaya terhadap apa yang dibawa
nabi tersebut. Mukjizat ini selalu dikaitkan dengan perkembangan dan keahlian masyarakat
yang dihadapi oleh tiap-tiap nabi. Dalam hal ini kisah nabi Ibrahim as, menemukan dan
membina keyakinannya melalui pencarian dan pengalaman-pengalaman keruhanian yang
dilaluinya dimana hal ini dijelaskan pada surah Al-An’ām ayat 76-78.
Ayat ini mengandung Tikrār /pengulangan pada kata “Hâdzâ Rabbî”. Jika dilihat
sepintas ayat di atas mengekspos bahwa nabi Ibrahim pernah mengalami masa-masa transisi
dalam proses mencari kebenaran Tuhannya. Hal itu jelas terlihat dari perkataan “Hâdzâ Rabbî”
ketika melihat bintang, bulan dan matahari. Namun persoalannya, benarkah seorang nabi
mengalami kebingungan mencari Tuhannya? Sedangkan nabi adalah manusia yang terjaga
(ma’shum) dari perbuatan dosa besar apalagi syirik. Bukankah ini merupakan hal yang
kontradiktif? Seorang nabi melakukan kesyirikan. Lantas apa sebenarnya rahasia dibalik
ucapan nabi Ibrahim “Hâdzâ Rabbî” sebagaimana termaktub dalam surah Al-An’ām.
Lafal“Hâdzâ Rabbî” yang dikeluarkan oleh Nabi Ibrahim tidak sampai membuat dia
menyekutukan Allah SWT atau melakukan perbuatan syirik karena perkataan “Hâdzâ Rabbî”
hanya berdasarkan dugaan (asumsi) melalui pengamatan yang beliau lakukan dalam proses
pencarian kebenaran tentang Tuhan.
Penafsiran pengulangan atas kata “Hâdzâ Rabbî” dalam surah Al-An’ām ayat 76-78
adalah bahwasannya Nabi Ibrahim bukanlah untuk menuhankan/menyembah kepada selain
Allah, dengan mengakui bintang, bulan, dan matahari sebagai tuhan, melainkan untuk
menyadarkan ummatnya bahwasannya sesuatu yang ada dan dapat sirna/tenggelam itu tidak
pantas dijadikan tuhan atau di pertuhankan. Dengan kata lain, perkataan Nabi Ibrahim tersebut
adalah ungkapan menyangkal kaumnya yang menyembah benda langit, bahwasannya nabi
Ibrahim meminta pemahaman (istifham) dengan membawa kesan keingkaran/mengingkari
benda-benda yang ada dilangit itu sebagai tuhan.
Dengan demikian, lafadz "Hâdzâ Rabbî" ini dapat dipahami telah menggunakan kaidah
tikrār (prinsip pengulangan) bertujuan untuk mengambil hikmah yang terkandung dalam Al
Qur’an dan memahami kisah pencarian kebenaran tentang Tuhan oleh Nabi Ibrahim untuk
memperkuat keimanan seseorang dan berintrospeksi diri serta mengambil ibrah (pembelajaran)
dari hal tersebut.
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Sri YF |
| Date Deposited: | 08 Nov 2024 06:02 |
| Last Modified: | 08 Nov 2024 06:02 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/27982 |




