Halid, Ahmad Ridhoni Idham (2026) Nilai-Nilai Kepemimpinan dalam Tafsir Al-Azhar: Studi tentang Keseimbangan antara Profesionalitas dan Spiritualitas. [Skripsi]
PERNYATAAN.pdf
Download (422kB)
AWAL.pdf
Download (1MB)
ABSTRAK.pdf
Download (215kB)
BAB I.pdf
Download (557kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (538kB)
BAB III.pdf
Download (783kB)
BAB IV.pdf
Download (275kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (238kB)
LAMPIRAN.pdf
Download (1MB)
Abstract
Krisis kepemimpinan kontemporer seringkali ditandai oleh dikotomi antara
kompetensi teknis dan integritas moral; banyak pemimpin cerdas namun nir-etika,
atau saleh namun lemah secara manajerial. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi
konsep kepemimpinan ideal perspektif HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar untuk
merespons problematika tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif
berbasis studi pustaka (library research) dengan metode tafsir maudhū‘ī (tematik).
Data dianalisis menggunakan pendekatan adabī ijtimā‘ī (sosial-kemasyarakatan)
untuk menggali kontekstualisasi pemikiran HAMKA terhadap ayat-ayat
kepemimpinan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi kepemimpinan HAMKA
bertumpu pada sintesis integratif dua pilar utama dalam Q.S. Al-Qaṣaṣ ayat 26,
yaitu al-qawîy dan al-amîn. HAMKA menafsirkan al-qawîy sebagai dimensi
profesionalitas yang mencakup kecakapan manajerial, keahlian teknis (expert), dan
kekuatan strategi, yang memiliki korelasi makna dengan sifat ḥafīẓhun ‘alîm dalam
Q.S. Yūsuf ayat 55. Sementara itu, al-amîn dimaknai sebagai dimensi spiritualitas
yang berakar pada keimanan dan melahirkan integritas. Temuan kunci penelitian
ini menegaskan bahwa hubungan kedua dimensi tersebut bersifat hierarkis
fungsional; spiritualitas (budi pekerti) harus berfungsi sebagai pengendali bagi
profesionalitas (akal/kompetensi). Tanpa kendali spiritualitas, profesionalitas
berpotensi menjadi alat manipulasi kekuasaan, sedangkan spiritualitas tanpa
profesionalitas akan melahirkan kepemimpinan yang naif dan tidak efektif.
Implikasi dari konsep ini menawarkan model "Kepemimpinan Profetik"
yang menyeimbangkan kapabilitas duniawi dengan kesadaran ukhrawi. Pemikiran
HAMKA ini sangat relevan diterapkan di Indonesia sebagai landasan etika birokrasi
dan rekrutmen pemimpin publik, di mana syarat kapabilitas (skill) dan akuntabilitas
moral (character) harus diletakkan dalam satu tarikan napas, bukan terpisah
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 13 Jan 2026 07:45 |
| Last Modified: | 13 Jan 2026 07:45 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/30401 |




