Ramadhan, Syahri (2026) Dimensi Esoterik Makna Kosakata Hikmah dalam Q.S. Al-Baqarah/2:269: Analisis Tafsir Isyârî Sahl at-Tustarî. [Skripsi]
PERNYATAAN.pdf
Download (2MB)
AWAL.pdf
Download (3MB)
ABSTRAK .pdf
Download (2MB)
BAB I.pdf
Download (2MB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
BAB III.pdf
Download (2MB)
BAB IV.pdf
Download (3MB)
BAB V.pdf
Download (2MB)
DAFTAR PUSTAKA .pdf
Download (2MB)
LAMPIRAN .pdf
Download (3MB)
Abstract
Penelitian ini membahas dimensi esoterik makna kosakata hikmah dalam Q.S.
Al-Baqarah/2:269 dengan fokus pada tafsir isyârî Sahl at-Tustarî. Kajian ini
berangkat dari pemahaman bahwa hikmah dalam Al-Qur’an tidak hanya bermakna
kebijaksanaan rasional atau pengetahuan normatif, tetapi juga mengandung dimensi
spiritual yang berkaitan dengan penyucian jiwa, pengalaman batin, dan kedekatan
kepada Allah. Dalam tradisi tafsir sufistik, hikmah dipahami sebagai pengetahuan
ilahiah yang tidak hanya diperoleh melalui kerja akal, tetapi juga melalui kesiapan
batin dan kejernihan hati.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna hikmah dalam Q.S. Al
Baqarah/2:269 menurut Sahl at-Tustarî, menganalisis dimensi esoterik tafsir isyârî
terhadap makna hikmah, serta menjelaskan pengaruh epistemologi sufistik dalam
konstruksi makna hikmah.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif.
Sumber primer penelitian ini adalah Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm karya Sahl at-Tustarî,
sedangkan sumber sekunder diperoleh dari kitab, buku, jurnal, dan penelitian yang
relevan. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori semantik Al-Qur’an
Toshihiko Izutsu dan konsep epistemologi sufistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hikmah dalam Q.S. Al-Baqarah/2:269
menurut Sahl at-Tustarî merupakan anugerah ilahiah yang diberikan Allah kepada
hamba yang memiliki kesiapan batin. Analisis semantik menunjukkan bahwa hikmah
berkaitan dengan ‘ilm sebagai pengetahuan yang matang dan terarah, hudâ sebagai
petunjuk menuju jalan yang benar, qalb sebagai instrumen penerima pengetahuan
ilahiah, taqwâ sebagai kesadaran moral-spiritual, serta fahm sebagai pemahaman
yang mendalam terhadap wahyu. Dalam perspektif epistemologi sufistik, hikmah
berkaitan dengan ma‘rifah sebagai pengenalan kepada Allah, kasyf sebagai
tersingkapnya pemahaman batin, ‘ilm ladunî sebagai pengetahuan yang
dianugerahkan Allah, serta tazkiyat an-nafs sebagai penyucian jiwa yang
mengantarkan manusia kepada kesiapan menerima hikmah. Berdasarkan temuan
tersebut, dimensi esoterik hikmah dirumuskan ke dalam tiga aspek, yaitu dimensi
spiritual yang memaknai hikmah sebagai kesadaran ruhani yang mendorong manusia
semakin mendekatkan diri kepada Allah, dimensi epistemik yang memandang
hikmah sebagai pengetahuan ilahiah yang diperoleh melalui kesiapan batin, serta dimensi etis yang menunjukkan bahwa hikmah berkaitan dengan pembentukan akhlak
dan perilaku. Analisis tafsir Sahl at-Tustarî terhadap ayat-ayat yang memuat term
hikmah menunjukkan bahwa hikmah juga berkaitan dengan rezeki batin, ‘ibrah,
penegakan hukum yang adil, pengendalian diri, keteraturan ciptaan Allah,
musyâhadah, zuhd, dan kekayaan jiwa, sehingga hikmah tidak sekadar dipahami
sebagai pengetahuan yang dimiliki, tetapi sebagai pengetahuan yang membentuk
manusia menuju kejernihan batin, kedalaman spiritual, dan kedekatan kepada Allah.
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Sri YF |
| Date Deposited: | 20 Jul 2026 02:47 |
| Last Modified: | 20 Jul 2026 02:47 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/31698 |




