Habibah, Habibah (2026) Makna Salat al-Wustha dalam Q.S Al Baqarah Ayat 238 Perspektif Ibn Ajibah pada Tafsir Bahrul Madid. [Skripsi]
PERNYATAAN.pdf
Download (167kB)
PERNYATAAN.pdf
Download (167kB)
AWAL.pdf
Download (853kB)
ABSTRAK.pdf
Download (182kB)
BAB I.pdf
Download (457kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (390kB)
BAB III.pdf
Download (334kB)
BAB IV.pdf
Download (513kB)
BAB V.pdf
Download (223kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (211kB)
LAMPIRAN.pdf
Download (1MB)
Abstract
Salat al-wustha merupakan salah satu salat yang secara khusus disebutkan
dalam al-Qur’an yaitu Q.S al-Baqarah ayat 238. Meskipun ayat tersebut
memerintahkan untuk menjaga seluruh salat, tetapi ada penekanan khusus pada
pemaknaan salat al-wustha yang menimbulkan perbedaan pandangan dikalangan
para ulama. Ada beberapa para ulama berpendapat bahwa salat al-wustha adalah
salat subuh karena dilihat dari ukuran hari dalam islam dimulai dari waktu magrib,
sehingga waktu pertengahannya ialah subuh. Ada juga memahami dari bilangan
rakaatnya yaitu salat magrib dan pandangan mayoritas para ulama salat al-wustha
ialah salat asar.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
kepustakaan (library research),dan jenis penelitiannya yaitu deskriptif kualitatif.
Penelitian ini juga menggunakan studi komparatif dengan objek perbandingannya
adalah Tafsir Bahr al-Madid fi Tafsir al-Qur’an al-Majid dengan mayoritas para
ulama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna salat al-wustha dalam
perspektif ibn ajibah dengan diperkuat dari berbagai pendekatan hadis,fikih, al
Qur’an dan lainya. Kemudian, dalam penelitian ini peneliti akan memberikan
analisis perbandingan antara ibn ajibah dan mayoritas para ulama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Ajibah membangun
penafsirannya melalu sintesis epistemologis antara nalar syariat (bayānī) dan
pengalaman spiritual (‘irfānī). Secara zahir, beliau mengakomodasi pandangan
mayoritas ulama mengenai pentingnya kedisiplinan ibadah fisik. Namun, secara
esoteris, Ibnu Ajibah melakukan dekonstruksi makna dengan mentransformasikan
salat al-wusthā menjadi Shalāt al-Qulūb (salatnya hati). Hati diposisikan sebagai
titik sentral (wusthā) eksistensi manusia yang dituntut untuk senantiasa "bersujud"
dan dalam keadaan muraqabah (sadar kehadiran Tuhan) secara konstan, melampau
batasan waktu fisik. Analisis komparatif menegaskan bahwa jika mufasir klasik lain
berdebat pada aspek kronologis-temporal, Ibnu Ajibah memberikan resolusi
ontologis. Penafsiran ini memiliki relevansi pragmatis di era modern sebagai
mekanisme pertahanan psikologis (coping mechanism) untuk membentengi umat
dari alienasi spiritual dan krisis makna hidup di tengah tuntutan gaya hidup
industrial yang mekanis.
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Sri YF |
| Date Deposited: | 03 Aug 2026 08:08 |
| Last Modified: | 03 Aug 2026 08:08 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/32240 |




