Kamal, Akhmad (2026) Rasionalitas Penafsiran M. Quraish Shihab tentang kisah Mukjizat Nabi Musa Membelah Lautan. [Skripsi]
PERNYATAAN.pdf
Download (82kB)
AWAL.pdf
Download (1MB)
ABSTRAK.pdf
Download (94kB)
BAB 1.pdf
Download (256kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (282kB)
BAB III.pdf
Download (251kB)
BAB IV.pdf
Download (584kB)
BAB V.pdf
Download (138kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (159kB)
LAMPIRAN.pdf
Download (1MB)
Abstract
Kisah Nabi Musa membelah lautan adalah mukjizat besar yang disebutkan
dalam beberapa ayat Al-Qur’an, sebagai bukti kekuasaan Allah sekaligus jalan
selamat bagi Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Peristiwa ini menarik dikaji karena
menghubungkan dua hal, yaitu keajaiban dari Allah dan hukum sebab-akibat yang
berlaku di alam. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah dikenal memadukan
akal dan wahyu secara seimbang, namun kajian khusus tentang cara berpikir rasion
alnya terhadap kisah ini masih jarang dilakukan. Karena itu, penelitian ini ingin
menjawab tiga hal: ayat apa saja yang membahas mukjizat ini, bagaimana Quraish
Shihab menafsirkannya, dan bagaimana pola pikir rasional yang ia gunakan.
Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan
(library research), yaitu mengkaji data dari tulisan, bukan dari lapangan. Data utama
adalah ayat-ayat Al-Qur’an tentang pembelahan laut beserta tafsirnya dalam Tafsir
Al-Misbah, dilengkapi buku dan jurnal pendukung. Data dikumpulkan dengan cara
membaca dan mencatat (dokumentasi), lalu dianalisis secara deskriptif, yaitu
dengan menguraikan dan mencermati cara Quraish Shihab berargumen secara ra
sional dalam menjelaskan mukjizat tersebut.
Hasil penelitian menemukan tujuh ayat yang membahas peristiwa ini, yaitu
QS. Al-Baqarah/2:50, QS. Al-A’raf/7:138, QS. Yunus/10:90, QS. Thaha/20:77,
QS. Asy-Syu’ara’/26:63–66, QS. Ad-Dukhan/44:24, dan QS. Adz-Dzariyat/51:40.
Masing-masing ayat menonjolkan sisi berbeda, mulai dari perintah Allah kepada
Nabi Musa, proses laut terbelah, hingga tenggelamnya Fir’aun. Quraish Shihab
menegaskan bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi, bukan sekadar kiasan. Ia juga
menjelaskan kemungkinan sebab alamiah, seperti angin kencang yang mendorong
air laut, namun tetap menegaskan bahwa yang membuatnya menjadi mukjizat ada
lah ketepatan waktu kejadian yang mustahil terjadi secara kebetulan. Pola rasional
Quraish Shihab ini bertumpu pada tiga hal: penggunaan akal secara kritis, analisis
bahasa yang mendalam, dan keseimbangan akal dengan wahyu. Dengan demikian,
penelitian ini menyimpulkan bahwa berpikir rasional dalam menafsirkan mukjizat
tidak melemahkan iman, justru memperkuatnya
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 04 Aug 2026 07:55 |
| Last Modified: | 04 Aug 2026 07:55 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/32266 |




