Al Banjari, M Dhihyah Qalbi (2026) Pemikiran Neuroparenting Islami Aisah Dahlan dalam Buku Maukah Jadi Orang Tua Bahagia. Tesis, Pascasarjana.
|
Text
pernyataan.pdf Download (187kB) |
|
|
Text
Awal.pdf Download (2MB) |
|
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (122kB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (555kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Restricted to Repository staff only Download (506kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Download (347kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Download (969kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Download (17kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (256kB) |
|
|
Text
lampiran.pdf Download (1MB) |
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pola pengasuhan pada anak usia dini (0–6 tahun) sebagai masa golden age (asrudz-dzahabiyyu), yaitu periode yang sangat menentukan perkembangan otak, fisik, mental, emosional, dan spiritual anak. Pada fase ini, anak memerlukan stimulasi dan pengasuhan yang tepat karena pengalaman awal akan membentuk karakter dan kepribadiannya di masa depan. Dalam perspektif Islam, anak merupakan amanah dari Allah Swt. yang menjadi tanggung jawab orang tua sejak masa kandungan hingga dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep, strategi, dan implementasi Neuroparenting Islami menurut Aisyah Dahlan dalam buku Maukah Jadi Orang Tua Bahagia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data primer diperoleh dari buku Maukah Jadi Orang Tua Bahagia karya Aisyah Dahlan, sedangkan data sekunder berasal dari jurnal, tesis, dan artikel ilmiah yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan content analysis deskriptif kualitatif dengan pola pikir deduktif. Keabsahan data diperkuat melalui teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Neuroparenting Islami Aisyah Dahlan merupakan integrasi antara ajaran Islam, psikologi perkembangan, dan neurosains. Pengasuhan dipandang sebagai proses pembentukan karakter yang dimulai dari kesiapan spiritual dan emosional orang tua. Pengalaman, bahasa, keteladanan, doa, tilawah Al-Qur'an, serta lingkungan yang baik diyakini membentuk jaringan saraf dan perkembangan akhlak anak. Regulasi emosi orang vi tua melalui ibadah, zikir, doa, dan tazkiyatun nafs menjadi fondasi utama terciptanya hubungan yang sehat dalam keluarga. Strategi Neuroparenting Islami menitikberatkan pada perbaikan diri orang tua sebelum mendidik anak, penguatan keteladanan, komunikasi positif, afirmasi, doa, serta pendidikan yang disesuaikan dengan fitrah, karakter, dan tahap perkembangan anak. Implementasinya diwujudkan melalui penguatan ketahanan emosi orang tua, pengelolaan kecemasan dan kemarahan, serta pendampingan anak di era digital dengan pendekatan komunikasi yang empatik, pengawasan sesuai usia, dan penguatan nilai-nilai Islam dalam menghadapi berbagai tantangan moral remaja. Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis antara nilai-nilai Al-Qur'an dan Hadis dengan temuan neurosains modern serta psikologi perkembangan. Aisyah Dahlan tidak hanya menjelaskan mekanisme kerja otak dalam pengasuhan, tetapi juga menawarkan langkah-langkah praktis berbasis spiritual, seperti istighfar, doa, zikir, dan keteladanan sebagai bagian dari regulasi emosi dan pembentukan karakter anak. Temuan ini memperkaya kajian pendidikan keluarga Islam dengan menghadirkan model pengasuhan yang bersifat ilmiah, aplikatif, dan religius
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Subjects: | L Education > L Education (General) |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 23 Sep 2026 02:14 |
| Last Modified: | 23 Sep 2026 02:14 |
| URI: | http://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/32428 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |




