Rasid, Muhammad (2025) Konsep Thaharah Dalam Al-Qur’an Menurut Tafsir Al Munîr Karya Wahbah Az-Zuḫailî. [Skripsi]
pernyataan keaslian tulisan.pdf
Download (371kB)
AWAL.pdf
Download (1MB)
ABSTRAK.pdf
Download (376kB)
BAB I.pdf
Download (1MB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (642kB)
BAB III.pdf
Download (808kB)
BAB IV.pdf
Download (1MB)
BAB V.pdf
Download (375kB)
DAFTAR PUSTAKA .pdf
Download (404kB)
LAMPIRAN.pdf
Download (743kB)
Abstract
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya perbedaan perspektif mengenai
permasalahan Thaharah dalam penafsiran Wahbah pada kitab Tafsir Al-Munîr
yang sedikit berbeda dari tafsiran-tafsiran lain.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penafsiran Wahbah Az
Zuḫailî terhadap ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menyinggung tentang konsep
Thaharah
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dan
pendekatan yang di gunakan adalah pendekatan kualitatif, pendekatan kualitatif
sendiri adalah pendekatan penelitian yang fokus pada kualitas, makna pemahaman
mendalam tentang fenomena
Penelitian ini menunjukkan Hasil bahwa dari ketiga ayat yang ditafsirkan
dalam Tafsir Al-Munîr, surah Al-Muddasir ayat 3-4, At-Taubah ayat 107-108, Al
Maidah ayat 6. Surah Al-Hujurat ayat 12 Surah Al-A’la ayat 14-15ditemukan
adanya persamaan juga perbedaan. Untuk persamaan, dari ketiga ayat tersebut
sama-sama membahas mengenai kebersihan dalam Al-Qur’an tidak hanya
kebersihan jasmani contohnya membersihkan badan dari segala kotoran dari kepala
sampai kaki tapi juga Thaharah secara rohani
contohnya menjauhi diri dari perbuatan tercela seperti ria sombong kikir. Untuk
perbedaannya, dari ketiga ayat tersebut memang menyebutkan bahwa kebersihan
yang dimaksud bukan hanya Thaharah secara jasmani, melainkan juga Thaharah
secara rohani,namun pada surah At-Taubah dan Al-Maidah keterkaitan antara
rohani,kebersihan jasmani dan kebersihan rohani ini tidak berkaitan secara
langsung. Maksudnya bukan berarti apabila jasmaninya kotor, maka hatinya juga
kotor dan sebaliknya. Berbeda pada penafsiran surah Al-Muddasir, pada ayat 3-4,
Wahbah Az-Zuḫailî mengomentari pendapat Qotadah dengan “Kedua makna itu
benar. Sesungguhnya kesucian indrawi atau kebersihan, biasanya berbarengan
dengan kesucian maknawi. Artinya bersih dan jauh-jauh dari maksiat.
Kebalikannya adalah benar. Adanya kotoran menunjukkan dengan pasti banyaknya
dosa. Ayat ini menunjukkan keagungan Allah Swt dari apa yang diucapkan oleh
para penyembah berhala, kebersihan, perbaikan akhlak, dan menjauhi maksiat
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 19 Jun 2025 02:12 |
| Last Modified: | 19 Jun 2025 02:12 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/29033 |




