Thayyibah, Ainun (2026) Transformasi Semantik Istilah Shummun, Bukmun, dan ‘Umyun dalam Al-Qur’an. [Skripsi]
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN.pdf
Download (117kB)
AWAL.pdf
Download (1MB)
ABSTRAK.pdf
Download (130kB)
BAB I.pdf
Download (305kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (289kB)
BAB III.pdf
Download (443kB)
BAB IV.pdf
Download (503kB)
BAB V.pdf
Download (173kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (189kB)
LAMPIRAN.pdf
Download (1MB)
Abstract
Penelitian ini mengkaji transformasi semantik istilah shummun, bukmun,
dan ‘umyun dalam Al-Qur’an. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya
ketidaksamaan antara makna leksikal ketiga istilah tersebut yang merujuk pada
ranah konkret (baik sifat material benda maupun fungsi indra manusia) dengan
penggunaan kontekstualnya dalam Al-Qur’an yang lebih dominan menggambarkan
kondisi spiritual dan karakter manusia dalam merespons kebenaran. Fokus utama
penelitian ini adalah mengungkap dinamika transformasi semantik dari ranah
konkret menuju ranah spiritual yang bersifat evaluatif serta menjelaskan
signifikansi variasi penggunaannya dalam berbagai konteks ayat.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan
(library research). Data utama terdiri dari ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat istilah
shummun, bukmun, dan ‘umyun, yang dianalisis menggunakan pendekatan
semantik. Langkah analisis meliputi penelaahan makna leksikal pada tradisi sastra
pra-Islam dan kamus klasik, analisis kontekstual melalui bantuan kitab-kitab tafsir,
pemetaan relasi antar istilah, hingga analisis fungsi retoris untuk merumuskan
bentuk transformasi semantik yang terjadi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah shummun, bukmun, dan ‘umyun
dalam Al-Qur’an mengalami transformasi semantik yang signifikan dari ranah
konkret menuju ranah spiritual melalui mekanisme metaforisasi dan perluasan
makna. Secara struktural, ketiga istilah tersebut membangun jaringan makna
dengan pola penyebutan kolektif, parsial, dan tunggal yang mencerminkan gradasi
pesan mengenai tingkat penolakan manusia terhadap petunjuk Allah. Penyebutan
ketiganya secara bersama-sama menunjukkan kerusakan batin yang parah,
sementara penyebutan yang parsial atau tunggal menekankan dimensi tertentu dari
penolakan terhadap kebenaran. Secara retoris, Al-Qur’an memanfaatkan
pengalaman dalam ranah konkret sebagai metafora untuk menjelaskan realitas
spiritual yang abstrak, sehingga pesan teguran dan peringatan eskatologis menjadi
lebih tajam dan hidup. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam pandangan dunia
Al-Qur’an, esensi pendengaran, penglihatan, dan ucapan ditentukan oleh respons
batin terhadap kebenaran, bukan sekadar keberfungsian mekanis organ tubuh dalam
ranah konkret semata
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 20 May 2026 03:50 |
| Last Modified: | 20 May 2026 03:50 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/31067 |




