Nabiilah, Nabiilah (2026) Kebolehan Umat Muslim Mengonsumsi Hasil Sembelihan Yahudi Dalam Perspektif Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali. [Skripsi]
PERNYATAAN.pdf
Download (114kB)
AWAL.pdf
Download (989kB)
ABSTRAK.pdf
Download (141kB)
BAB I.pdf
Download (357kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (330kB)
BAB III.pdf
Download (398kB)
BAB IV.pdf
Download (270kB)
BAB V.pdf
Download (116kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (149kB)
LAMPIRAN.pdf
Download (1MB)
Abstract
Penelitian ini membahas tentang kebolehan mengonsumsi hasil sembelihan
orang Yahudi, yang mana menunjukkan bahwa Mazhab Syafi’i dan Mazhab
Hambali memiliki tujuan yang sama mengetahui hukum kebolehan mengonsumsi
hasil sembelihan orang Yahudi yang mana adanya perbedaan dari kedua mazhab
yang mazhab Syafi’i menitikberatkan kesempurnaan dalam penyembelihan dan
mazhab syafi’i dalam bacaan fleksibel, menyebut nama Allah sebagai syarat sah,
sehingga daging tetap halal dikonsumsi meski penyembelih sengaja tidak
membacanya. Sedangkan Mazhab Hambali menjadikan kehalalannya pada
penyebutan nama Allah secara penyebutan secara jelas jika tidak menyebutkan
nama Allah maka kehalalan pada dagaing tersebut menjadi haram. Adapun
penyembelihan oleh orang Yahudi nama selain Allah oleh Ahli Kitab jauh lebih
utama untuk diharamkan. Hal ini selaras dengan pengecualian pada QS. Al-Hajj:
36. Dengan tujuan menganalisis status kebolehan daging hasil sembelihan orang
Yahudi perfektif mazhab Syafi’i dan mazhab Hambali, serta mencari persamaan
dan perbedaan istinbath hukum yang digunakan oleh mazhab Syafi’i dan mazhab
Hambali.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi
literatur, menganalisis ayat Al-Qur’an dan hadist yang relevan, serta tafsir para
ulama. Hasil penelitiannya penjelesan kitab Al-Umm menurut mazhab syafi’i dan
mazhab Hambali kedua mazhab ini membolehkan orang Muslim memakan hasil
sembelihan orang Yahudi dengan syarat penyembelihannya sesuai disamakan
dengan hasil qiyas , khusus penyembelihan yang benar dan sebutan nama Allah.
Membedakan mazhab Syafi’i dan mazhab Hambali dengan penyebutan nama Allah
menurut mazhab Syafi’i membolehkan jika menyebut nama Allah tanpa jelas
dengan dalam hati maka kehalalan daging itu halal, sedangkan mazhab Hambali
mengharuskan mengucapkan nama Allah ketika memotong hewan tersebut maka
status daging tersebut halal. Kesimpulannya masing-masing mazhab memberikan
persfektif yang berbeda dalam memberikan status kehalan daging tersebut yang
berdampak praktik konsumsi dikalangan umat Muslim. Mazhab Syafi’i
menekankan dengan silsilah keturunan penyembelihan, sedangkan mazhab
Hambali lebih fleksibel, memperbolehkan daging hasil sembelihan yang mengaku
Yahudi tanpa mencari tahu garis keturunanya
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | K Law > K Law (General) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Perbandingan Mazhab |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 26 Jun 2026 08:33 |
| Last Modified: | 26 Jun 2026 08:33 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/31296 |




