Habibi, Achmad Rizal (2026) Term Al-Kibar Dalam Perspektif Al Qur’an (Analisis Semantik Toshihiko Izutsu). [Skripsi]
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN.pdf
Download (332kB)
AWAL.pdf
Download (1MB)
ABSTRAK.pdf
Download (130kB)
BAB I.pdf
Download (405kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (298kB)
BAB III.pdf
Download (388kB)
BAB IV.pdf
Download (664kB)
BAB V.pdf
Download (167kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (166kB)
LAMPIRAN.pdf
Download (2MB)
Abstract
Penuaan merupakan fase kehidupan yang tidak terelakkan, ditandai dengan
penurunan kondisi fisik dan psikis yang membawa manusia pada kesadaran akan
keterbatasannya. Al-Qur’an menyoroti fase ini melalui penggunaan term al-Kibar
dalam enam ayat, yaitu Q.S. Al-Baqarah: 266, Âli ‘Imrân: 40, Ibrâhim: 39, Al-Ḫijr:
54, Al-Isrâ’: 23, dan Maryam: 8. Pemaknaan term tersebut tidak hanya merujuk
pada dimensi biologis usia lanjut, tetapi juga mengandung nilai teologis dan etis,
khususnya dalam kaitannya dengan kewajiban berbakti kepada orang tua serta
pengakuan akan kemahakuasaan Allah dalam menghadirkan mukjizat di tengah
keterbatasan manusia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna al-Kibar dalam Al
Qur’an menggunakan pendekatan semantik Toshihiko Izutsu, serta menggali
relevansinya terhadap etika Islam dalam memperlakukan lansia. Kajian ini
diharapkan dapat memperluas pemahaman akademis terkait terminologi Qur’ani
sekaligus memberikan kontribusi normatif dalam pengembangan etika sosial
keislaman.
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis
semantik yang mencakup kajian makna dasar dan makna relasional (sintagmatik
dan paradigmatik), serta analisis sinkronik dan diakronik. Sumber primer penelitian
ini meliputi Al-Qur’an dan kitab tafsir, terutama Tafsir Al-Mishbah dan Tafsir Al
Munîr yang menggunakan metode tahlili, sedangkan literatur sekunder digunakan
sebagai penunjang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Kibar secara dasar bermakna usia
lanjut dengan segala keterbatasannya, sementara makna relasionalnya bervariasi
sesuai konteks ayat Analisis sinkronik dan diakronik menunjukkan kesinambungan
konsep ini dari tradisi pra-Qur’ani, tetapi dalam Al-Qur’an maknanya diperdalam
hingga menjadi refleksi spiritual dan moral. Dengan demikian, al-Kibar dalam
perspektif Qur’ani dipahami bukan semata kondisi biologis, melainkan fase sakral
yang menuntut penghormatan, kasih sayang, dan kesadaran akan kelemahan
manusia dihadapan Allah
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | L Education > L Education (General) |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Humaniora > Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 21 Jul 2026 01:09 |
| Last Modified: | 21 Jul 2026 01:09 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/31727 |




