Rajabbianur, Muhammad Taufiq (2024) Hukum Menyematkan Nama Suami di Belakang Nama Istri (Studi Komparatif Lembaga Fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi dan Daarul Ifta’ Mesir). [Skripsi]
PERNYATAAN.pdf
Download (69kB)
AWAL.pdf
Download (1MB)
ABSTRAK.pdf
Download (57kB)
BAB I.pdf
Download (518kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (461kB)
BAB III.pdf
Download (284kB)
BAB IV.pdf
Download (424kB)
BAB V.pdf
Download (124kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (119kB)
LAMPIRAN.pdf
Download (1MB)
Abstract
Manusia mulai mengenal nama semenjak manusia pertama diciptakan oleh tuhan (Adam
alaihi salam). Itulah yang dijelaskan oleh kitab – kitab agama samawi yang merupakan firman
tuhan yang diyakini kebenarannya secara benar oleh golongan manusia yang beriman lagi
beragama. Terdapat banyak tradisi penggunaan nama di dunia yang dipengaruhi oleh
kebudayaan masing - masing yang memiliki sejarah yang panjang. Yang mana masing –
masing daerah memiliki tradisi penggunaan nama yang berbeda. Salah satunya tradisi yang ada
adalah kebudayaan menyematkan nama suami atau nama keluarga suami di belakang nama
istri setelah menikah. Lembaga Fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi dan Daarul Ifta’ Mesir
merupakan dua lembaga fatwa yang telah mengeluarkan fatwanya terkait bagaimana hukum
bagi seorang muslim yang menyematkan nama suami di belakang nama istri layaknya
kebiasaan orang-orang di negeri barat.
Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum
normatif bersifat yang deskriptif melalui pendekatan komparatif, yang berfokus kepada kajian
keislaman dengan mengkaji fatwa kedua lembaga yang bersangkutan, Literatur yang berkaitan
dengan masalah fiqh, serta ilmu – ilmu penunjang lain seperti sejarah dan sosiologi sebagai
alat dan bahan analisis dalam penelitian kali ini.
Dari Hasil penelitian didapati bahwa lembaga fatwa Lajnah Daimah Arab Saudi
memfatwakan haram menyematkan nama suami di belakang nama istri adalah karena mufti
memahami bahwa menyematkan nama suami di belakang nama istri merupakan suatu bentuk
penasaban diri kepada suami atau keluarga suami, dan ini merupakan suatu hal yang terlarang
dan memiliki ancaman yang besar. Perkara ini juga dianggap sebagai meniru – niru orang kafir
(Tasyabuh bil kufr) yang mana wajib bagi muslim untuk berhati hati dan meninggalkan perkara
yang demikian itu. Berbeda dengan lembaga fatwa Daarul Ifta Mesir yang memfatwakan boleh
menyematkan nama suami di belakang nama istri karena mufti mempertimbangkan ‘urf atau
kebiasaan masyarakat di suatu negara dan berpandangan bahwa tidak ada satupun perempuan
yang pada praktiknya ketika ia mengadopsi nama suami atau nama keluarga suaminya, ia
menyangkal hubungan orang tua kepada ayah kandungnya. Perbuatan yang demikian itu hanya
sebagai bentuk identifikasi bahwa perempuan tersebut telah menikah dengan seorang pria dari
keluarga tertentu.
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | K Law > K Law (General) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Perbandingan Mazhab |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 28 Mar 2024 00:52 |
| Last Modified: | 28 Mar 2024 00:52 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/26345 |




