Junaedi, Muhammad Yadi (2024) Studi Komparatif Pendapat Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali terhadap Keabsahan Wudhu dengan Air Curian. [Skripsi]
keaslian.pdf
Download (267kB)
AWAL.pdf
Download (1MB)
ABSTRAK.pdf
Download (193kB)
BAB I.pdf
Download (475kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (558kB)
BAB III.pdf
Download (395kB)
BAB IV.pdf
Download (909kB)
BAB V.pdf
Download (138kB)
Daftar pustaka.pdf
Download (234kB)
LAMPIRAN BELAKANG.pdf
Download (2MB)
Abstract
Persoalaan wudhu dan segala seluk beluknya menjadi ilmu dan amalan
yang sangat penting dalam kajian keislaman. Persoalaan wudhu juga tidak lepas
dari persoalan media yang digunakan untuk berwudhu yaitu air. Ulama berbeda
pendapat mengenai air yang didapatakan dengan cara yang haram seperti air
curian, apakah air tersebut merusak keabsahan wudhu atau tidak. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pandangan Mazhab Syafi‟i dan Mazhab Hanbali
mengenai keabsahan wudhu dengan air curian dan untuk mengetahui istinbath
hukum yang dilakukan oleh Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanbali dalam persoalan
keabsahan wudhu menggunakan air curian.
Metode penelitian yang diterapkan dalam skripsi ini adalah penelitian
hukum normatif. Penelitian normatif, yang juga dikenal sebagai penelitian
kepustakaan, bertujuan untuk mengumpulkan data dari sumber-sumber
kepustakaan yang terkait dengan masalah yang sedang diselidiki. Pendekatannya
menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang bersifat perbandingan. Bahan
hukum yang digunakan dalam penelitian ini mencakup bahan hukum primer,
sekunder, dan tersier.
Hasil penelitian ini terdapat perbedaan pandangan dan istinbat hukum
antara Mazhab Syafi‟i dan Mazhab Hanbali. Di dalam pandangan Mazhab Syaf‟i,
air yang didapatkan dari hasil ghasab atau curian tidak merusak keabsahan wudhu
sehingga berwudhu dengan air tersebut adalah sah. Sementara dalam pandangan
Mazhab Hanbali, air yang didapatkan dari hasil yang haram seperti air curian
merusak keabsahan wudhu karena suatu perbuatan tidak mungkin diperintahkan
dan dilarang sekaligus, dalam hal ini adalah perintah berwudhu dan larangan
menggunakan air yang didapatkan dengan cara yang haram. Namun menurut
pendapat Mazhab Syafi‟i, pengharaman mencuri air dan perintah untuk berwudhu
tidak ada hubungan yang saling berketergantungan (talazum) dan perkara yang
diharamkan itu merupakan faktor eksternal (amr khariji). Meskipun kedua
Mazhab ini berbeda pendapat terkait keabsahannya namun mereka sepakat bahwa
perbuatan mencuri air meskipun digunakan untuk berwudhu adalah perbuatan
yang haram dan membuat pelakunya berdosa.
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | B Philosophy. Psychology. Religion > BL Religion K Law > K Law (General) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Perbandingan Mazhab |
| Depositing User: | Sri YF |
| Date Deposited: | 29 May 2024 03:26 |
| Last Modified: | 29 May 2024 03:26 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/26577 |




