Rahmatullah, Faisal (2026) Hukum Bersiwak Ba'da Zawal Pada Bulan Ramadhan Menurut Mazhab Maliki Dan Mazhab Syafi'i. [Skripsi]
PERNYATAAN.pdf
Download (178kB)
AWAL.pdf
Download (1MB)
ABSTRAK.pdf
Download (77kB)
BAB I.pdf
Download (461kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (361kB)
BAB III (3).pdf
Download (305kB)
BAB IV (1).pdf
Download (167kB)
BAB V.pdf
Download (62kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Download (146kB)
LAMPIRAN.pdf
Download (1MB)
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan pandangan di kalangan ulama
mengenai hukum bersiwak ba’da zawal pada bulan Ramadhan bagi orang yang
berpuasa, khususnya antara Mazhab Maliki dan Mazhab Syafi’i. Perbedaan tersebut
muncul karena adanya perbedaan dalam memahami dalil-dalil hadis tentang siwak
dan aroma mulut orang yang berpuasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hukum bersiwak ba’da zawal pada bulan Ramadhan menurut Mazhab Maliki dan
Mazhab Syafi’i serta mengetahui metode istinbath hukum yang digunakan kedua
mazhab dalam menetapkan hukum tersebut.
Jenis penelitian yang di gunakan adalah penelitian hukum normatif yang bersifat
deskriptif dengan pendekatan komparatif. Bahan hukum diambil dari kitab-kitab
primer kedua mazhab.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mazhab Maliki berpendapat bahwa bersiwak
ba’da zawal bagi orang yang berpuasa tetap dianjurkan dan tidak termasuk
perbuatan makruh. Pendapat ini didasarkan pada hadis-hadis umum yang
menganjurkan bersiwak tanpa adanya pembatasan waktu tertentu. Mazhab Maliki
juga beranggapan bahwa bau mulut orang yang berpuasa berasal dari lambung
akibat kosongnya perut, sehingga bersiwak tidak akan menghilangkan keutamaan
bau tersebut secara hakiki. Selain itu, Mazhab Maliki lebih menitikberatkan pada
aspek kebersihan, kemaslahatan, dan kemudahan bagi umat Islam dalam
menjalankan ibadah puasa.Sementara itu, Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa
bersiwak setelah zawal hukumnya makruh bagi orang yang sedang berpuasa. Hal
ini karena bersiwak dianggap dapat mengurangi atau menghilangkan aroma mulut
orang yang berpuasa yang memiliki keutamaan di sisi Allah SWT sebagaimana
dijelaskan dalam hadis Nabi ﷺ. Dalam menetapkan hukum tersebut, Mazhab Syafi’i
lebih mengutamakan pendekatan tekstual terhadap hadis serta menerapkan prinsip
kehati-hatian dalam menjaga nilai spiritual ibadah puasa.Perbedaan pandangan
antara kedua mazhab tersebut menunjukkan bahwa hukum Islam memiliki keluasan
dan fleksibilitas dalam memahami dalil-dalil syariat. Walaupun terdapat perbedaan
dalam penetapan hukum, kedua mazhab tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu
menjaga kesempurnaan ibadah puasa dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Oleh
karena itu, perbedaan pendapat tersebut hendaknya dipahami sebagai bagian dari kekayaan khazanah fiqih Islam yang perlu disikapi dengan sikap toleransi dan
saling menghargai antar sesama umat Islam
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | K Law > K Law (General) |
| Divisions: | Fakultas Syariah > Perbandingan Mazhab |
| Depositing User: | Yoe Oden |
| Date Deposited: | 26 Jun 2026 07:48 |
| Last Modified: | 26 Jun 2026 07:48 |
| URI: | https://idr.uin-antasari.ac.id/id/eprint/31292 |




